Saya telah menekuni ilmu atau the science of coaching sejak tahun 2001. Tidak terasa sudah hampir 20 tahun saya memelajari tanpa henti ilmu coaching ini. Saya curious (penasaran), jikalau coaching itu amat baik dan efektif di dunia kerja (marketplace), apakah coaching juga bermanfaat bila dipakai di dalam konteks pelayanan kristiani.

Jawaban yang saya temukan belasan tahun, tepatnya sejak pertama kali saya belajar coaching langsung dari Dr. Gary R. Collins, PCC., adalah YA.

Tidak heran, dalam penelitian saya, hingga kini, lebih dari 20 seminari teologi di Amerika Serikat, menyediakan mata kuliah coaching. Dan sudah lebih dari 1000 hamba Tuhan yang menekuni dan menerapkan keterampilan coaching di lading-ladang pelayanan mereka.

Guru saya, Dr. Keith E. Webb, PCC., seorang misionaris yang diutus ke Indonesia, dan melayani lebih dari 16 tahun, mendirikan sekolah coaching bernama Creative Results Management, khusus bagi umat Kristen dan banyak yang sudah menjadi pendeta atau pastors, atau misionaris. Di situ saya kaget. Ada apa dengan coaching dan mengapa coaching penting di dalam pelayanan kristiani.

Beberapa hal yang saya temukan, hidupi, dan praktikkan, mengapa coaching sangat memberkati pelayanan kristiani.

  1. Coaching mentransformasi pikiran dan kehidupan orang-orang atau pemimpin-pemimpin yang dicoach. Dengan coaching, mereka bukan diajari, disodori nasihat dan/atau solusi, juga tidak dihakimi. Namun, ditantang dengan pertanyaan-pertanyaan dahsyat yang membuat orang-orang ini berpikir keras, berefleksi, dan menerawang untuk melihat apa yang Tuhan mau mereka lihat. Juga ditantang untuk menyadari apa yang Tuhan mau mereka sadari. Pada akhirnya, orang-orang yang dicoach ini mampu menemukan jawaban atau solusi sendiri atau tahu bagaimana mencapai sasaran atau impian yang dia inginkan. Jadi, si coach bukan orang yang paling suci, paling tahu, paling pandai, paling berpengalaman dalam menyodorkan nasihat-nasihat pastoralnya. Mereka hanya alat di tangan Tuhan untuk menolong yang dicoach (coachee) agar bisa bergerak melesat ke depan (to move forward). Bukan how-to yang diajarkan si coach, tetapi kesadaran apa yang berhasil dimunculkan dari dalam diri coachee.
  2. Coaching merupakan alat efektif dalam pelayanan pemuridan (discipleship) dan penggembalaan (pastoral). 
    • Dalam pelayanan pemuridan, para murid tidak cuma diajarkan, di tutor atau dibimbing seperti seorang anak baru belajar berjalan untuk memahami apa artinya menjadi seorang murid. Namun, mereka juga diajak untuk berpikir cerdas dan kreatif, bagaimana menjalankan kehidupannya sebagai murid Kristus. Untuk hal ini, mentoring tidak pernah cukup. Mentoring dan coaching, jika “dikawinkan” akan menghasilkan murid-murid Kristus yang amat solid dan dapat menghasilkan buah banyak.
    • Dalam pelayanan penggembalaan, para domba Kristus sangat membutuhkan pelayanan active listening dari para gembala. Ketika Tuhan Allah mendengar keluhan orang Israel di Mesir, Dia bertindak memakai Musa membawa umat-Nya ke luar dari Mesir (peristiwa exodus). Ketika Tuhan Yesus mendengar kesedihan seorang janda yang anak lelaki kesayangan meninggal, Ia segera bertindak membangkitkan anak itu di kota Nain. Barangkali, tidak ada cara yang paling ampuh dalam pelayanan penggembalaan jika sang gembala adalah seorang pendengar aktif yang hebat. Di dalam ilmu coaching, active listening adalah kompetensi yang amat vital jika sang gembala-coach sanggup mendengarkan para domba gembalaannya.

Almarhum Dr. Billy Graham pernah menulis: “Seorang coach akan menghasilkan dampak ke lebih banyak orang dalam setahun, dibandingkan kebanyakan orang pada umumnya akan menghabiskan sepanjang umur hidupnya untuk hasil yang sama.” Ada panggilan surgawi bagi para pelayan atau aktivis, apalagi pemimpin gereja, agar cepat-cepat mendedikasikan diri untuk menjadi seorang Kristen sekaligus menjadi seorang coach Kristen.  God bless you all the time.

Dr. Paulus Kurnia, PCC
Co-founder of Cherish Indonesia
ICF registered mentor-coach
Pendeta emeritus Sinode Gereja Kristus

 

× Ada yang bisa kami bantu?