Istilah coaching tidak pernah muncul di dalam Alkitab. Sama halnya dengan istilah mentoring. Apalagi konsulting. Di kalangan para pemimpin Kristen sering memertanyakan. Jangan-jangan coaching sangat duniawi atau minimal sekular. Tidak Alkitabiah.

Saya belajar coaching, untuk pertama kalinya dari Dr. Gary R. Collins. Menuliskan buku Christian Coaching. Dia pernah memberikan 1 kopi disertai tanda tangannya, buat saya pribadi. Saya mulai menekuni isinya. Christian coaching yang dia sajikan amat Jesus-centered.

Setelah itu, saya belajar coaching secara mandiri. Dari sana-sini. Membeli buku2 tentang coaching dan rajin membacanya, sejak tahun 2001. Sampai pada satu saat, saya mengambil kelas sertifikasi coaching, di tahun 2010. Semasa saya sabbatical leave (cuti sabatikal) di tahun 2011, saya menuntaskan penelitian tentang coaching secara intensif, menuliskan buku pertama tentang coaching di Indonesia. Bukan buku terjemahan. Judulnya: Coaching yang Menumbuh-kembangkan. Sudah dicetak 2 kali karena tingginya permintaan. Sudah tersebar lebih dari 5000 eksemplar. Sejak tahun 2011 sd September 2020. Ke seluruh dunia.

Dari hasil penelitian saya tentang coaching belasan tahun, saya menemukan beberapa hal menarik:

Pertama. Pendekatan coaching yang saya pelajari dari market place. Amat mengesankan saya sebagai orang Kristen. Misalnya tentang budaya coaching. Antara lain, bahwa dalam mengcoach, si coach tidak boleh menghakimi, menyalah-nyalahkan coachee atau klien. Harus penuh empati saat mendengarkan. Ada kasih sayang yang amat tinggi. Coach harus menghormati pribadi dan apa yang ada dipikiran klien. Tugas coach adalah melakukan provokasi atas pikiran klien. Menggali ide-ide dan kreativitas klien. Menantang asumsi-asumsi klien agar dia lebih lebar perspektifnya. Mangajak klien agar bergerak melesat ke depan (moving forward).

Kedua. Pelajaran tentang mendengarkan aktif dan bertanya dengan dahsyat. Ini luar biasa. Ketika dalam proses coaching, 2 alat ini amat efektif. Efektif untuk memelebar ruang berpikirnya klien. Perspektifnya lebih jauh. Refleksi diri si klien teraktivasi. Penemuan-penemuan baru dan kesadaran diri klien tercipta. Akhirnya si klien bisa move forward. Alangkah indahnya jika si coach bisa menolong klien menemukan AHA momentnya. Drive baru muncul. Semangat hidup tumbuh luar biasa. Tindakan klien membawa dia lebih bertumbuh-kembang. Bukan cuma pikiran, tapi perasaan, perilaku, sampai ke profesionalisme kariernya.

Menemukan 2 hal di atas dari pembelajaran saya tentang coaching, jelas coaching tidak bertentangan dengan semangat dari Alkitab. Alkitab menekankan pembaharuan budi (Roma 12:2) agar terjadi di kehidupan orang Kristen. Ditekankan pula agar move forward, tidak menoleh ke belakang atau backward (Filipi 3:13-14). Hidup dan bekerja dengan tujuan dan latihan-latihan atau disiplin untuk mencapainya (1 Korintus 9:25).

Alkitab juga mengajarkan agar dengan sesama kita, apalagi dengan sesama orang percaya, terbangun sikap dan sifat saling: membangun (upbuilding), mengasihi (love), memerdulikan (care), menghormati (respect) , membantu (help), menopang/mendukung (support), menguatkan (encouragement), tidak menghakimi (judgmental), dan tidak membenci (hatred). Semua kualitas ini ada di dalam budaya coaching yang saya sudah pelajari dan terus praktikkan lebih dari 19 tahun.

Dr. Paulus Kurnia, PCC

× Ada yang bisa kami bantu?