Helping People Help Themselves

Seorang filsuf terkenal dari Tiongkok pernah berpendapat: “Give a man a fish, feed him for a day. Teach a man to fish, feed him for a lifetime”. Terjemahan bebas dari ungkapan itu adalah: “Berikan seseorang seekor ikan, maka Anda memberi dia makan untuk satu hari. Namun bila Anda mengajarkan dia bagaimana menangkap ikan, maka Anda memberi dia makan untuk seumur hidupnya.”

Filosofi ini sangat berguna dan sudah terbukti kebenarannya, teraplikasi baik di dalam kehidupan pribadi seseorang, maupun di dalam kehidupan ekonomi bangsa-bangsa. Ekonomi yang sehat dan kuat sebuah negara seringkali dibangun ketika prinsip “helping people help themselves” diterapkan. Hal itu juga terjadi di dalam konteks-konteks lainnya selama manusia senantiasa sadar, bahwa dirinya perlu bertumbuh, berkembang, dan bergerak maju hingga ke sebuah titik yang tidak pernah dia ketahui ujungnya.
Coaching, sebagai salah satu bentuk layanan di wilayah helping ministry, berorientasi pada helping people help themselves. Seseorang sebelum dia bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang coach, dia dilatih dan diyakinkan bahwa pada diri orang-orang yang dia coach (yang disebut coachee) terdapat semacam potensi, dan kapasitas berupa jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan pergumulan-pergumulan yang tengah dihadapinya. Carl Rogers, salah seorang pakar psikologi, pernah mengembangkan semacam terapi yang berpusat pada diri klien itu sendiri. Pendekatan ini dikenal dengan sebutan Client-Centered Therapy (CCT). CCT tumbuh di era tahun 1940 dan 1950an. Terapi semacam ini menggunakan sebuah pendekatan yang sifatnya non-directive. Dengan pendekatan ini, seorang psikolog atau seorang konselor tidak akan mengontrol atau menyetir atau mengarahkan pikiran dan tingkah-laku klien untuk mencapai suatu solusi. Dasar pemikirannya adalah bahwa orang-orang cenderung untuk bergerak ke arah pertumbuhan dan pemulihan atau kesembuhan, dan mereka memiliki kapasitas untuk menemukan jawaban-jawaban punyanya mereka sendiri. Di sini, seorang terapis menggunakan banyak pertanyaan untuk menggali, membangkitkan kesadaran klien, sampai akhirnya dia berhasil menemukan jawaban punyanya sendiri bagi dirinya sendiri. Terapis tidak memberi tahu (telling), nasihat, instruksi, dan pengajaran apapun bagi klien.
Pendekatan ini dipakai dalam pelaksanaan coaching. Coaching bisa dipakai sebagai alat untuk merubah pola pikir (mindset), membangkitkan kesadaran (awareness), dan menumbuhkan kreativitas (creativity) klien untuk menemukan (discover) jawaban-jawaban punyanya sendiri, bukan berasal dari coach atau orang-orang lain. Selain itu, coaching juga sifatnya lebih memberdayakan (empowering) seseorang ketimbang mengontrol (controlling).
Landsberg menjelaskan bahwa apabila seseorang diberitahu atau digurui, dia cenderung dikontrol. Sebaliknya apabila seseorang digali dengan pertanyaan-pertanyaan, maka dia akan lebih diberdayakan. Seorang coach berusaha secara konsisten untuk memasilitasi (facilitating) coachee agar dia berhasil menemukan jawaban-jawaban punyanya sendiri, ketimbang mengharapkan atau menerima “ikan” dari coach-nya. Di sisi yang lain, seorang coach seolah-olah sedang mengajari coachee “bagaimana menangkap ikan,” melalui proses penemuan konsep-konsep dan cara-cara yang asalnya dari coachee sendiri.
Paulus Kurnia, seorang coach profesional dalam buku karangannya “Coaching yang Menumbuh-kembangkan” yang menjelaskan semua hal tentang coaching, juga menekankan bahwa “coaching merupakan salah satu cara untuk menumbuh-kembangkan seseorang di berbagai aspek kehidupannya.”