Hari ini, sertifikasi coaching yang diterbitkan oleh berbagai sekolah coaching sangat variatif dan amat banyak. Sebagai seorang professional coach tersertifikasi dari International Coach Federation, saya akan berbagi pengetahuan tentang hirarki sertifikasi coaching ICF, yang kerap disebut sebagai kredensial ICF.

Kredensial Level Dasar: Associate Certifed Coach (ACC)

Di level ini, seorang ACC dianggap sudah memahami semua penanda atau marker dari 11 Kompetensi Dasar Coaching ICF. Sekarang sudah ke luar versi barunya, dari 11 menjadi 8 Kompetensi. Paling sedikit, seorang ACC sudah lulus menjadi seorang coach pemula. Murni melakukan coaching, bukan mentoring. Bukan konseling atau psiko-terapi. Bukan pula konsulting. Ukuran lulus ini, sekali lagi, berbasis pada standar coaching dan kode etik International Coach Federation (ICF). Seorang ACC, dengan jam terbang tinggi, uniknya bisa dibayar lebih mahal dari biasanya, walaupun dia belum mencapai level PCC dan/atau MCC.

Kredensial Level Menengah: Professional Certified Coach (PCC)

Seorang PCC, bukan lebih tinggi dari seorang ACC. Tapi lebih berpengalaman baik dalam pengumpulan jam praktik coachingnya, maupun dalam jam pelatihan coachingnya. Jam terbangnya, minimal 5x lipat dari jam terbang seorang ACC. Menurut standar. Seorang PCC, lebih dituntut agar lebih terampil di area Active Listeningnya. Karena dengan kemampuan yang lebih baik dalam Active Listening, si coach akan lebih piawai dalam mengajukan Powerful Questionsnya. Dengan demikian, seorang PCC akan lebih efektif dalam membantu kliennya. Ibaratnya, 2 orang dokter umum. Dokter A telah berpraktik sekitar 3 tahun. Sedangkan Dokter B berpraktik lebih dari 10 tahun. Dua-duanya bukan spesialis. Tapi Dokter B cenderung melayani pasiennya relatif lebih akurat, baik dalam melakukan diagnosa maupun membuka resep obat. Sebenarnya, kompetensi kedua Dokter itu sama, piawai dalam ilmu kedokteran secara umum. Yang membedakan adalah porto-folionya. Porto-folio jam terbangnya dan porto-folio penambahan  jam pelatihan kedokterannya. Jadi, tentunya hal-hal ini berimbas ke ketajaman menghidupi kompetensinya. Seorang PCC harus menuntaskan minimal 125 jam pelatihan coaching berbasis ICF. Sedangkan seorang ACC, harus menuntaskan minimal 60 jam.

Kredensial Level Advance: Master Certified Coach (MCC).

Seorang MCC, bukan lebih tinggi dari seorang PCC. Apalagi, bukan lebih tinggi dari seorang ACC. Karena standar kompetensi coachingnya sama. Lalu apa perbedaan MCC dan PCC? Jam terbang seorang MCC, minimal 5x lipat dari jam terbang seorang PCC. Jelas, dengan mengantongi jam terbang di atas 2500an, seorang MCC, dianggap telah memiliki kemampuan lebih mendalam dibandingkan seorang PCC, apalagi ACC. Sebagai seorang coach profesional, dia dibayar relatif lebih mahal dibandingkan PCC dan MCC. Sebelum lulus mendapatkan gelar MCC, kandidat diminta kepiawaiannya dalam mengcoach para klien. Penekanan kepiawaiannya terletak pada ketajaman intuisi, pertanyaan2 dahsyat yang berfokus penuh pada diri klien (YOU questions), dan terampil di semua lini Core Competencies ICF. Penambahan jam pelatihan coachingnya juga diminta. Minimal 200 jam totalnya, sejak dia mengurus ke ACC. Tidak heran, tidak mudah untuk lolos dari ujian MCC. Selamat belajar terus, dan terus belajar.

Dr. Paulus Kurnia, PCC

 

× Ada yang bisa kami bantu?