Fungsi seorang pemimpin cukup banyak, bahkan relatif sangat banyak. Mulai dari sebagai visionaris sampai ke pemberdaya memersiapkan pemimpin yang akan menggantikan (bukan meneruskan) kepemimpinannya kelak.

Dr. John Maxwell pernah menulis tentang dirinya. Di hari pertama dia menjabat kepemimpinan, di hari keduanya, dia sudah mulai memikirkan siapa pemimpin pengganti kepemimpinannya. Supaya regenerasi kepemimpinan dapat terjadi. Di dalam bukunya berjudul The 5 Levels of Leadership, dia telah menginspirasikan saya. Bagaimana seorang leader dapat naik level dari level sebelumnya, jika tanpa seorang coach. Tentunya pendekatan coaching di sini menjadi amat penting.

Lebih dari 17 tahun yang lalu, saya dikejutkan dengan tulisan Mark Sanborn. Buku yang ditulisnya berjudul You Don’t Need a Title to be a Leader. Memberi gambaran bahwa seseorang bisa memimpin bukan karena dia punya jabatan. Di buku tersebut, dia mengilhami bagaimana membuat perbedaan-perbedaan positif, di manapun, siapapun bisa mewujudkannya. Itu adalah salah satu karakter kepemimpinan. Dia juga pernah menulis: “In today’s world, much is made of a person’s title. Yet the little actual power exists in a title alone.” Keprihatinan Sanborn dapat dijawab jika seorang pemimpin berfungsi sebagai seorang coach juga.

Sebagai coach, seorang pemimpin dapat memikirkan dan melakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Seorang individu, siapapun, di jabatan apapun, dalam peran apapun, harus mencapai potensi atau kemampuan maksimalnya. Bob Nardelli, mantan CEO Home Depo, believes that without a coach, people “will NEVER reach their maximum capabilities”. Coaching amat membantu, dan terkesan harus dilaksanakan.
  • Seorang pemimpin tidak bisa langsung menghasilkan pemimpin baru (emergent leader, misalnya), otomatis gegara jalur jenjang karier. Transformasi cara dan kebiasaan berpikir, kemampuan membangun visi, keterampilan menciptakan suasana nyaman di tempat/lingkungan kerja, butuh bantuan coaching. Bukan dengan bantuan manual kerja (job manual) di mana seseorang bekerja atau melayani.
  • Sudah sepantasnya, kalau begitu, seorang pemimpin menyisihkan waktunya untuk menolong jajarannya dengan coaching: membuat agenda rutin (bulanan, dwi bulanan, setahun 2 kali, misalnya), dengan sengaja membangun kebiasaan bercakap-cakap dengan pendekatan coaching ketika ada kesempatan. Dan lebih dari itu adalah: embodying a coaching mindset: menyelami, menghidupi model coaching bagi orang-orang lain. Artinya, berpikir dengan cara coaching itu sudah mendarah-daging, otomatis, tidak dibuat-buat, tapi menjadi begitu intentional. Ini sejalan dengan Updated ICF Core Competency No. 2.

Nilai lebih dari seorang pemimpin masa kini diukur dari intensi dan kemampuannya meng-coach orang-orang di mana saja, kapanpun, dan dalam kondisi apapun juga. Agar dunia semakin maju, dan transformasi hidup muncul di mana-mana. Coaching memang WOW.

Dr. Paulus Kurnia, PCC

 

 

× Ada yang bisa kami bantu?