Keberhasilan coaching ditopang oleh banyak faktor. Salah satunya si coachee memiliki kebiasaan berpikir secara reflektif. Misalnya ketika ditanya coach: “Apa yang pernah Anda pikirkan tentang masa depan?” Coachee atau klien yang berpikir reflektif akan merenung, memikirkan cukup lama, bukan sekedar mengingat-ingat. Setelah itu baru menjawab.

Biasanya dalam one-on-one coaching, coach dan coachee berkomunikasi dua arah. Namun adakalanya, coachee bisa berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Termasuk melakukan refleksi diri. Melakukan refleksi diri itu amat dahsyat. Baltasan Gracian menulis: “Self reflection is the school of wisdom.” Kalau mau menjadi orang yang berhikmat, lakukan sesering mungkin refleksi diri tentang diri sendiri. Tentang keadaan di sekitar. Tentang dunia, dan tentang dunia yang akan datang. Tentang kesementaraan dan keabadian.

Di dalam aktivitas refleksi diri, seseorang bertanya pada diri sendiri, memikirkan secara amat mendalam tentang apa nilai-nilai yang diyakini. Apa yang menjadi mimpi murninya. Apa yang dia pahami tentang diri sendiri, Tuhan dan orang lain. Bagaimana perasaan yang tengah dia rasakan dengan sejujur-jujurnya. Bagaimana persepsi dia tentang kehidupan yang pantas dan benar itu, dan banyak hal lain terkait dengan keberadaan dirinya sebagai yang diciptakan menurut peta dan gambar Allah.

Dari aktivitas self reflection ini, kita bisa melanjutkannya ke aktivitas self coaching. Dalam proses coaching dengan model TUMBUH, self coaching bisa dilakukan sebagai berikut:

Fase Target

Pertanyaan dahsyatnya (PQ = powerful question), misalnya: “Apa sih yang  aku mau dalam karier aku 10 tahun ke depan?” (Ditanyakan kepada diri sendiri, untuk dijawab sendiri juga)

Saya (diri sendiri menjawab): “Aku ingin menjadi seorang coach sukses.”

Fase Ukuran

PQ:       “Apa tandanya jika aku sudah menjadi seorang coach sukses?” atau “Apa indikatornya?”

Saya:    “Minimal aku ingin menjadi seorang Master Certified Coach dari ICF.”

Fase Monitor

PQ:       “Mengapa menjadi seorang MCC itu penting bagi aku?”

“Coba lebih detil: pentingnya yang barusan aku katakan itu, seberapa penting?”

“Siapa yang paling dipentingkan di sini?”

“Sebetulnya, apa yang paling aku cari dalam kehidupan ini?”

“Apa reward yang sedang aku tunggu-tunggu jika nanti sukses meraih gelar MCC?”

Saya: (melakukan refleksi diri terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas)

Fase Bingkai

PQ:       “Apa yang aku lihat sekarang?” “Apa yang belum aku lihat sebenarnya?”

“Kesadaran apa yang baru saja aku munculkan?”

Saya:    “Aku sadar menjadi seorang MCC itu tidak mudah.  Tapi kesempatannya terbuka lebar.

Fase Upaya

PQ:       “Aku mesti ngapain dulu ya dalam waktu dekat ini?”

Saya: (melakukan refleksi diri terhadap pertanyaan di atas, untuk menyusun strategi)

Fase Hasil

PQ:       “Apa hasil yang sudah mulai terlihat?” “Di lain waktu, apa yang perlu dikembangkan?”

Saya:    “Hasilnya, aku sudah separuh jalan memersiapkannya. Tinggal dikejar lagi apa yang masih ketinggalan. Aku yakin, aku bisa, jika Tuhan mengijinkannya.”

Mari berefleksi diri ria. “Looking back so that the view looking forward is even clearer.” Itu manfaat besarnya.

 Dr. Paulus Kurnia, PCC

 

× Ada yang bisa kami bantu?