Meniti perjalanan menjadi seorang coach handal, tidak mudah. Penuh lika-liku. Panjang, bertahun-tahun. Banyak hal berharga yang harus dilepaskan. Jika kita bertanya kepada para coach handal bagaimana proses mereka dapat berkembang? Apa saja yang mereka pikirkan dan persiapkan. Sejak kapan dan sampai kapan. Jawabannya tidak sederhana. Mengapa?

  1. Bukan sembarang coach. Menjadi seorang coach handal itu bukan coach asal-asalan. Banyak orang yang sangat suka dipanggil coach. Setelah saya meniti karir sebagai professional coach, lebih dari 19 tahun, baik di dalam negeri maupun di manca negara. Saya menemukan beberapa hal. Semakin saya memiliki jam terbang praktik coaching, saya semakin tidak tahu mengcoach orang-orang. Pikiran, perasaan, dan perilaku orang-orang amat variatif. Tidak bisa dipukul rata. Saya mencoba meniru para model coach. Ternyata tidak bisa dipraktikkan seperti yang mereka contohkan. Itu membuat saya sadar sesadar-sadarnya, bahwa tidak ada yang disebut coach handal secara final. Perkembangan menjadi seorang coach tidak pernah bisa berhenti pada sebuat titik. Apalagi kalau ingin dipanggil sebagai seorang coach handal.
  2. Faktor 3P. Diperlukan Panggilan, Passion, dan Penglihatan (visi), 3P, untuk menjadi seorang coach handal. Di titik manapun dia berada. Dengan 3P, seorang coach tidak mudah goyah kiprah karirnya. Dia akan konsisten menghidupi 3P nya. Malah dia harus merawatnya. Jika tidak, maka proses perkembangan dirinya mencapai tujuan sebagai coach handal akan menurun. Lama kelamaan berhenti. Bahkan berhenti total. Karena visinya tidak dirawat. Panggilannya sudah lama hilang. Otomatis, passionnya juga lemah. Padahal 3P itu adalah pemberian Allah. Jika itu yang dia yakini sejak awal.
  3. Disiplin. Disiplin diri merupakan kunci penting bagaimana seorang coach biasa bisa berkembang menjadi seorang coach handal. Disiplin merawat 3P. Disiplin belajar. Disiplin menggali ilmu coaching secara berkesinambungan. Disiplin untuk senantiasa memakai pendekatan coaching dengan siapapun dia berkomunikasi. Dia bukan orang yang paling tahu, paling pintar atau cerdas, atau paling arif. Dia pandai mendisiplinkan hatinya sendiri (the discipline of the heart). Supaya dia selalu menempatkan dirinya sebagai the learner, bukan the advisor atau problem solver. Yang terakhir: berdisiplin meniti perjalanan karirnya menjadi coach handal, tanpa kehilangan fokus.
  4. Keberanian. Pergerakan dari seorang coach biasa atau coach pemula menjadi coach handal, harus disikapi dengan sebuah keberanian. Seorang coach harus berani menerima kegagalan. Gagal mengcoach klien. Gagal memahami klien. Kegagalan dipercayai sebagai jembatan ke kehandalan. Dia juga harus berani untuk menerima feedback negatif. Tidak cuma maunya menerima feedforward.
  5. Komunitas. Setiap orang membutuhkan kerumunan orang-orang. Tapi bukan sembarang kerumunan. Crowd ini harus berupa Community. Komunitas adalah wadah efektif untuk sebuah pertemuan, interaksi, dan pembelajaran agar setiap anggotanya bertumbuh-kembang. Saya dulu sulit berkomunitas. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya sadar bahwa saya harus terlibat aktif di dalam sebuah komunitas. Di situlah, tanpa saya sadari, saya tengah berkembang.

Sampai dengan hari ini, saya melihat bahwa perkembangan diri saya sebagai coach, masih membutuhkan banyak hal dari yang saya tuliskan di atas. Ayo kita belajar bersama. Dunia sedang menanti kita, para coach. Yang mereka tunggu adalah seorang coach yang berkualitas dan mampu membuat terobosan dan transformasi di kehidupan, karir, dan profesionalitas klien yang mereka layani. Bravo para coach!

Dr. Paulus Kurnia, PCC
Co-founder & coaching trainer of Cherish Indonesia
Coaching practitioner for more than 19 years
ICF registered mentor-coach

 

× Ada yang bisa kami bantu?