Di dunia coaching, banyak sekali cabang coaching. Seperti pada cabang-cabang olah-raga. Hampir tidak ada area kehidupan dan karier manusia, yang tidak dapat dikaitkan dengan coaching. Namun, pada intinya sama, yakni coaching.

Apa itu coaching?

Mengacu pada International Coach Federation, coaching dipahami sebagai kemitraan dengan para klien dalam proses mendobrak pikiran dan kreativitas yang mengilhami pemaksimalan potensi pribadi (personal) dan profesionalisme mereka.

Perhatikan 2 kata kunci di dalam definisi coaching di atas. Pertama kata “pribadi” (personal). Kedua kata “profesionalisme”. Tujuan coaching menjawab 2 pilar ini. Yakni untuk pemaksimalan kehidupan pribadi orang perseorangan. Dan pemaksimalan profesionalisme orang tersebut.

Jadi, ada perbedaan yang amat signifikan terkait dua entitas ini.

Pemaksimalan profesionalisme seseorang, dapat dicapai melalui proses executive coaching. Sedangkan pemaksimalan kehidupan pribadi atau orang-perseorangan, dapat dicapai melalui proses life coaching.

Executive coaching

… menolong orang-orang bertumbuh karier dan/atau profesinya secara profesional. Siapakah para klien dari seorang executive coach? Mereka adalah para pemimpin sekaligus eksekutif. Memiliki visi dan sasaran strategis. Menuntun para bawahan mencapai sasaran-sasaran mereka. Memiliki mimpi besar mengembangkan dirinya sebagai pemimpin, juga mengembangkan organisasi yang mereka pimpin. Mengembangkan para calon atau kandidat pemimpin-pemimpin baru (emerging leaders). Mereka juga adalah para pengambil keputusan sentral dan puncak. Menjadi orang-orang kunci penggerak organisasi atau korporat. Tugas seorang executive coach adalah mendongkrak para pemimpin-ekskutif ini naik dari satu level ke level berikutnya, sesuai dengan profesinya masing-masing. Dan dengan demikian profesionalisme mereka juga terus berkembang.

Life coaching…

menolong para klien mencapai sasaran-sasaran kehidupan pribadi mereka sehari-hari. Misalnya: sasaran untuk memiliki relasi yang baik dan sehat antar sesama atau di antara suami dan isteri, orang-tua anak. Atau, sasaran untuk menjadi pribadi yang bermartabat. Atau, sasaran untuk memiliki tujuan hidup. Atau, sasaran untuk memiliki kehidupan yang bahagia, yang sejahtera, yang sehat, yang seimban, yang prima, yang sukses, yang rohani, dlsb. Terkait ini, seorang life coach bertugas untuk membawa para klien di satu titik awal ke titik sasaran para klien, membukakan perspektif mereka agar bisa move forward. Menanyakan apa saja faktor-faktor yang mungkin bisa menahan laju kehidupan mereka. Apa saja tantangan-tantangan yang patut dihadapi dan ditanggulangi. Sampai akhirnya para klien mencapai sasaran-sasaran pribadi mereka.

Betapa hebatnya jika seseorang memiliki kesempatan untuk belajar coaching. Belajarnya satu kali, manfaatnya seumur hidup, dipakainya untuk segala urusan dan area. Ayo, belajar coaching. Nothing to lose, but with great impacts created for helping people grow personally and professionally.

Dr. Paulus Kurnia, PCC

× Ada yang bisa kami bantu?