Hari ini, banyak sekali orang yang menamakan dirinya coach. Istilah coach hampir menjadi seperti kacang goreng. Di mana-mana bisa ditemukan. Di acara-acara talk show amat marak. Bahkan seorang motivatorpun diidentikkan dengan seorang coach. Ada sebagian orang, baru belajar coaching 2 jam, minggu depannya terbit kartu nama dengan gelar coach.

Lepas apakah seseorang adalah seorang coach atau bukan, amat penting didasarnya. Siapakah yang layak disebut coach? Apa saja syarat-syaratnya? Melalui perenungan hampir 20 tahun menjadi coach, inilah hasil refleksi saya:

  1. Integritas. Seorang coach harus memiliki integritas. Integritas adalah gabungan atau kumpulan dari kata-kata bermatabat seperti: kejujuran, ketulusan, konsistensi, dan transparansi. Seorang coach yang berintegritas, dengan sendirinya terus-menerus sedang menanamkan modal. Modal untuk semakin dipercayai oleh klien. Modal untuk semakin bisa diandalkan. Modal untuk semakin disukai. Siapa yang mengorbankan integritas dirinya, langsung runtuh perannya sebagai coach.
  2. Tabiat. Banyak kata-kata tabiat yang harus dimiliki seorang coach. Setiap orang memililik satu set tabiat, yang jika dihidupi secara konsisten dan digabungkan akan menjadi karakter dia. Menurut saya, inilah daftar tabiat, yang minimal harus menjadi bagian internal dalam  diri coach dalam keseharian hidupnya: rendah-hati, bukan menjadi Mr. Know-All. Low profile, tidak superior. Teacheable heart, terbuka untuk selalu belajar. Tidak mudah marah atau tersinggung. Tidak membesar-besarkan diri (boasting), padahal kemampuan dirinya tidak seperti yang dia katakan. Independent. Bersikap netral, tidak memengaruhi orang lain. Juga tidak mudah dipengaruhi orang lain atau sesama coach. Berjiwa kolaboratif.
  3. Profesional. Menjadi profesional di sini bukan dalam arti umum. Kata profesional sering dikaitkan dengan penghidupan seseorang karena profesinya. Menjadi profesional di sini lebih menitik-beratkan kompetensi. Kompetensi coaching yang handal. Yang mumpuni. Yang berstandar emas (gold standard). Kemampuan praktik coachingnya sudah melewati ujian kompetensi. Saya sering menyarankan agar para lulusan dan pemegang gelar profesional sebagai coach. Agar mereka melanjutkan perjalanan karir coaching ke tahap internasional. Karena dunia kita sudah bersifat global. Bukan lokal semata. 
  4. Learning. Seorang mentor saya bernama Max Landsberg, pernah menulis. The one who stops learning, stop leading. Saya merasa seperti ada sebuah palu memukul kepala saya. Karena saya dulu paling malas untuk belajar sesuatu. Belakangan saya sadar, jika saya ingin memimpin orang-orang dengan pendekatan coaching, saya harus berani dan rajin belajar. Hampir di waktu longgar saya habiskan untuk melakukan riset, membaca, dan membuat model-model baru untuk perkembangan industri coaching dan pemanfaatan coaching di kehidupan banyak orang. Di berbagai konteks. Di berbagai area atau aspek. Dan di berbagai budaya.
  5. Asking. Lima tahun terakhir ini, saya disadarkan betapa pentingnya seorang coach itu menjadi seorang penanya (asker). Karena para klien adalah para pemikir (thinkers). Mulai saat itu saya mulan belajar untuk menjadi seorang penanya handal. Salah satu buku favorit saya adalah: A More Beautiful Question. Dikarang oleh Dr. Warren Berger. Buku itu telah menjadi inspirasi saya. Tiga tahun yang lalu terbit buku karangan maha-karya Dr. John C. Maxwell. Judulnya: Great Leader Asks Great Questions. Saya mulai memeraktikkan saran-saran dari para raksasa ini. Hasilnya positif. Banyak klien saya yang mengalami transformasi di pikiran dan kehidupan mereka. Itu semua menjadi latar belakang munculnya buku maha-karya saya berjudul Powerful Killer Questions for Coaches. Ribuan eksemplar telah dibaca dan dipraktikkan orang-orang.

Saya tidak berani mengatakan bahwa saya sudah paling memenuhi syarat menjadi seorang coach. Tapi refleksi saya di atas telah menolong diri saya sendiri juga. Saya membiasakan diri untuk melakukan self coaching. Ini penting karena orang-orang yang saya coach jauh lebih penting. Hidup, potensi, dan profesionalitas mereka penting bagi Tuhan, semesta alam.

Dr. Paulus Kurnia, PCC
Co-founder & coaching trainer of Cherish Indonesia
Coaching practitioner for more than 19 years
ICF registered mentor-coach

× Ada yang bisa kami bantu?