Memang tidak mudah untuk menjadi seorang coach yang handal, kali ini kita akan membahas bagaimana kita mengajukan pertanyaan dahsyat yang langsung menuju atau membawa klien mencapai tujuannya, transparan, tanpa basa-basi dan untuk menghindari agenda tersembunyi (hidden agenda) yang berpotensi membawa Anda sebagai seorang Coach atau pun klien sebagai Coachee terjebak dalam situasi status Quo atau berbelok arah tujuannya, karena seringkali kita sebagai seorang coach di liputi awan keraguan apakah pertanyaan itu akan membuat dia tersinggung, kehilangan muka, terutama pada saat memberikan tinjauan HASIL pada sesi coaching yang kedua, ketiga dan seterusnya.
Untuk memudahkan pemahaman kita, mari kita belajar lewat sebuah contoh berikut ini:
Dalam sebuah kelas pelatihan, trainer mengajukan pertanyaan berikut ini kepada peserta, “Berapa banyak dari anda yang memiliki kesempatan untuk menyelesaikan tugas membaca artikel yang saya berikan pada pertemuan yang lalu?”
Hampir semua orang mengangkat tangannya. Trainer berkata,”Baik sekali. Baru kali ini saya mendapati bahwa hampir semua peserta melakukan tugas baca artikel.”
Tiba- tiba ada seorang peserta mengangkat tangan dan berkata,”Pak, Anda bertaya siapa yang punya kesempatan baca artikel, kami semua punya kesempatan pak. Menurut saya pertanyaan yang baik adalah “Siapa yang benar-benar telah menyelesaikan tugas membaca artikel yang saya berikan pada pertemuan yang lalu?”
Dan Trainer itu pun menyetujuinya.
Trainer bertanya sekai lagi, “Siapa yang benar-benar telah menyelesaikan tugas membaca artikel yang saya berikan pada pertemuan yang lalu?”
Kali ini hanya sepertiga kelas saja yang mengangkat tangannya….
Tugas coach memiliki kesamaan dengan contoh trainer diatas dalam hal akuntabilitas, sebagai salah satu bagian untuk memfasilitasi pembelajaran seorang klien atau coachee.
Seorang coach memiliki akuntabilitas terhadap klien atau coacheenya dan hal itu diwujudkan terutama pada saat fase HASIL, dimana klien sudah melakukan rencana tindakan yang telah di susun pada sesi coaching yang lalu.
Coach perlu mengajukan pertanyaan dengan jelas, bagaimana hasil dari rencana tindakan yang telah di sepakati pada sesi yang lalu serta meninjau HASILnya. Bila HASILnya sudah baik, maka Coach dapat memberikan pujian. Dan apabila HASILnya kurang sesuai, Coach wajib menanyakan:
- Apa yang terjadi?
- Peningkatan atau improvement seperti apa yang akan dilakukan untuk mengejar ketinggalannya itu
- Sumber daya atau dukungan seperti apa yang dibutuhkan untuk bergerak maju (move forward)?
- Langkah lanjutan agar bisa mengejar Target dan Ukuran (TU) yang telah disepekati bersama?
Seringkali seorang coach terjebak dalam awan keraguan dan tidak berani melakukan tinjauan sebagaimana yang disebutkan diatas.
Contoh:
Coach seharusnya mengajukan pertanyaan ,”Apa yang sudah berjalan baik saat anda melakukan tindakan pada sesi yang lalu?”
Alih-alih mengajukan pertanyaan seperti diaas, Coach abai atas hasil tinjauannya dengan mengatakan kalimat seperti ini:
“Saya yakin dan percaya anda sudah mengerjakan PR nya kan, yuk kita lanjutkan sesi coachingnya…
Maka anda sebagai Coach terjebak dalam situasi yang menyenangkan klien, atau menjaga muka klien (karena klien memang tidak melakukan apa-apa) atau Coach merasa tidak nyaman atau nggak enak hati bila mengajukan pertanyaan langsung seperti itu, dan sebagainya.
Dan untuk itulah, Anda sebagai Coach dilatih untuk berani menghadapi kenyataan atau confront reality, transparan dan memiliki rasa ingin tahu (curiosity) yang tinggi, untuk memaparkan dengan jelas apa yang ingin klien capai, dengan mengajukan pertanyaan langung (Direct Communication & Powerful Question), baik saat proses coaching berlangusng ataupun saat seorang Coach sedang meninjau HASIL dari tindakan yang dilakukan kliennya. Bagaimana usaha yang sudah klien lakukan, apa saja potensi masalah atau kendalanya, apa lagi yang Anda bisa bantu, sebagai bentuk akuntabilitas(Accountability) Anda sebagai seorang Coach.
Ingatlah dengan baik, bahwa Coaching adalah alat atau sarana untuk menumbuhkembangkan orang atau klien kita sesuai dengan kemampuannya tetapi juga bukan berarti klien bolah abai terhadap tindakan pencapaian targetnya (TU), bukan juga sarana pembanding antara pencapaian kita sebagai Coach dengan klien, atau rasa minder/ nggak enak hati kita, yang timbul dari pandangan ingin menjadi Coach yang baik dan disenangi daripada Coach hebat, yang benar-benar mendorong kliennya untuk bergerak maju / move forward mencapai tujuan pribadi dan profesionalnya.
Pada akhirnya, semua itu di kembalikan kepada Coaching Mindset kita sebagai seorang coach dan proses pembelajaran klien atau Client Autonomy. Yang pasti, untuk menjaga akuntabilitas (Accountability) Anda sebagai seorang Coach, serta tanggung jawab pembelajaran(Responsibility) dari coachee, akan di buktikan dalam proses peninjauan rencana tindakan (form Action Plan), agar proses coaching itu berdampak bagi Anda pribadi sebagai seorang Coach, klien anda sebagai Coachee, dan/atau organisasi yang mensponsori kegiatan coaching itu.
Salam Great,
Surya Rachmannuh, PLT, CLC
Certified Trainer MWS International,
CLC & CCT from Cherish Indonesia,
7 Habits Dan 4 DX guru dari Franklin Covey International.
Site: www.coachtogreat.com